Semester yang mencabar harus dilalui dengan sabar.

alhamdulillah. keputusan semester lalu keluar akhirnya. ada peningkatan, maka aku gembira. cuma sedikit makan hati kerana kepayahan mendapat dekan. 3.43... nyaris2, tp bukan rezeki. gigit jari sajalah melihat rakan-rakan Pendidikan Khas dapat keputusan yang cemerlang... rakan-rakan sama kursus? tak tahu..0.0. heh.takde yang sudi bagitahu?

tak mengapalah. kerana yang penting, keputusan paper-paper sejarah agak baik..( walaupun bukan A, tapi B+). tapi mengenangkan betapa cintanya aku pada sejarah, aku takkan mengalah! :) baru tadi syukri mesej aku maklumkan aku dia dapat 3.29. kemudian, kami berbincang sedikit tentang perancangan semester hadapan. aku bercadang nak ambil paper bersama dia, sebab dia tak kedekut ilmu orangnya. aku pun yakin kami rakan study yang baik sebab aku suka berkongsi pendapat dengan dia.

tentang subjek pendidikan, masih bingung nak ambil paper apa semester hadapan. dahlah kecewa tak dapat skor A PGA101.. seriously, kecewa. B+ memang menggalakkan, tapi untuk paper asas pendidikan, rasa kenapalah tak mampu dapat lebih baik? gila Lasykar Pelangi pun masih tak skor.. wawa..

Walaubagaimanapun, aku sangat berterima kasih pada rakan-rakan sekumpulan SHE101 dan PGT203, kerana kedua-dua paper ni aku dapat A. tanpa ahli kumpulan yang memberi kerjasama, tentu pointer aku tak sebaik yang aku dapat kali ini.


Pengajaran hari ini, berusaha dan berusaha lagi. tuhan yang menentukan. Banyak lagi skill belajar yang aku harus terokai demi survive di alam universiti. Berbicara soal 'survive', aku yakin semester hadapan pasti lebih mencabar. dan aku mengharap ada seseorang yang sentiasa disisi, memberi aku semangat menghadapi dugaan-dugaan mendatang.

lebih besar dugaan, semakin aku memerlukannya.. siapa dia? aku lebih tahu.

Legenda Budak Setan


Saat ini, promo filem Lagenda Budak Setan hari-hari ditayangkan di televisyen. Lagu latar 'Bila Cinta' begitu menyayat hati. apapun, aku terpaksa mengaku bahawa sedikit kecewa dengan pengarahan filem ini.apapun, begitulah dunia filem... sarat dengan kehendak memenuhi tarikan komersial tetapi mengabaikan nilai-nilai indah yang membuatku pernah jatuh cinta dengan novel ini.

Lagenda budak setan. Novel Ahadiat Akashah yang ku baca ketika usia 11 tahun.ya, 11 tahun. inilah novel tebal pertama yang aku baca. apa yang ingin aku coretkan, bukanlah berkenaan kisah cinta yang dipaparkan dalam novel ini, tapi impak novel ini terhadap hidup aku.

ahadiat akashah pernah menjadi penulis kegemaranku di usia awal remaja. ya, usia mentah yang memang cenderung pada kegilaan novel yg ku anggap pada masa itu sesuai dengan tahap mindaku. dalam usia 12 tahun, aku mula menulis cerpen dan mengedarnya kepada rakan-rakan sekolah untuk dibaca. temanya klise, cinta remaja. tajuknya juga sudah ku lupa. hasrat utk menyimpannya karya pertamaku juga punah kerana ia telah dimakan anai-anai. adakala, rakan-rakan lama mengusik mengenai karya lamaku itu. ketawa sendiri mengingatkan betapa mentahnya aku masa itu, usia 12 tahun tapi menulis cerita ttg kelompok akhir remaja. haha.tapi tak mengapalah, aku sekadar mencuba. dan ahadiat, pembuka hasratku untuk menulis. :)


tapi, aku mengaku, selepas berakhir zaman penerbitan novel naskah ahadiat, aku tak lagi membaca novel. Ribuan novel Alaf 21 yang menjadi pujaan ramai remaja seusia langsung tidak menarik minatku. selama beberapa tahun, mungkin dalam 5-6 tahun aku tidak berminat membaca novel. aku mula muak dengan tema cinta remaja, ku rasa minda ku tak dapat menerimanya. mungkin kerana usia sudah mula menginjak, perlahan-lahan bacaanku tertumpu pada biografi, karya sejarah dan seumpamanya. sebenarnya sejak kecil aku memang gemar kisah anbia, kerana papa mama memang gemar menghadiahkan aku buku-buku cerita sedemikian. ( teringat memori menyertai pertandingan bercerita.. hehe).

dan kini, setelah begitu lama mencari novel yang mampu menarik minat, Laskar Pelangi adalah jawapannya. ku teruskan dengan mengikuti tetrologinya. tidak dinafikan, aku sangat berhati-hati memilih bacaan novel. aku akan pastikan ulasan terhadapnya terlebih dahulu. aku mudah terpengaruh? mungkin, tapi aku jadi begini kerana serik membaca novel separuh jalan kerana hilang minat terhadap jalan cerita yang sudah ku jangka pengakhirannya.

aku mengaku, aku bukan pengkritik sastera yg baik jika aku tidak menghayati novel keseluruhannya. dan mungkin aku juga tercari-cari rakan yang dapat memberi cadangan novel yang selaras kehendak dan minatku. aku ada ramai kawan yang gila novel, malangnya jarang sekali aku temui yang mempunyai minat yang sama denganku. 

p/s : watak kasyah, pernah menjadi ikon lelaki idaman aku. kasyah pada aku adalah lelaki nakal, selekeh sedikit, tetapi menarik.. :) sayangnya watak kasyah oleh farid kamil yg berimej bersubang jauh sekali dr fantasi kasyah idamanku! huhu. :(

The Worst Words to Say at Work


9 common words and phrases that will make you sound noncommittal, undependable, and untrustworthy


Some words and phrases are often used to buy time, avoid giving answers, and escape commitment. If you use these words and phrases yourself, take a scalpel and cut them out of your thinking, speaking, and writing.
"Try" 

"Try" is a weasel word. "Well, I'll try," some people say. It's a cop-out. They're just giving you lip service, when they probably have no real intention of doing what you ask. Remember what Yoda says to Luke Skywalker in "Star Wars": "Do or do not--there is no try." Take Yoda's advice. Give it your all when you do something. And if it doesn't work, start over.
Put passion into your work, and give it your best effort, so you can know that you did all you could to make it happen. So if the outcome you were expecting didn't come to fruition, it's not because you didn't do everything you could to make it happen. It just wasn't the right time for it or it wasn't meant to be.


"Whatever" 

This word is a trusted favorite of people who want to dismiss you, diminish what you say, or get rid of you quickly. "Whatever," they will say as an all-purpose response to your earnest request. It's an insult and a verbal slap in the face. It's a way to respond to a person without actually responding. When you say "whatever" after another person has said his or her piece, you have essentially put up a wall between the two of you and halted any progress in communicating. It's a word to avoid.


"Maybe" and "I don't know"

People will sometimes avoid making a decision--and hide behind words and phrases like "maybe" and "I don't know." There's a difference between legitimately not knowing something and using words like these as excuses. Sometimes during a confrontation, people will claim not to know something or offer the noncommittal response "maybe," just to avoid being put on the spot. If that seems to be the case, ask, "When do you think you will know?" or "How can you find out?" Don't let the person off the hook so easily.


"I'll get back to you" 

When people need to buy time or avoid revealing a project's status, they will say, "I'll get back to you," and they usually never do. If people say they will get back to you, always clarify. Ask them when they will get back to you, and make sure they specify the day and time. If they don't, then pin them down to a day and time and hold them to it. If they won't give you a day or time, tell them you'll call in a day or week and follow up. Make sure you call and get the information you need.


"If" 

Projects depend on everyone doing his or her part. People who use "if" are usually playing the blame game and betting against themselves. They like to set conditions, rather than assuming a successful outcome. People who rely on conditional responses are fortifying themselves against potential failure. They will say, "If Bob finishes his part, then I can do my part." They're laying the groundwork for a "no fault" excuse and for not finishing their work.
There are always alternatives, other routes, and ways to get the job done. Excuse makers usually have the energy of a slug and the spine of a jellyfish. You don't want them on your team when you're trying to climb Mt. Everest.


"Yes, but . . ." 

This is another excuse. You might give your team members suggestions or solutions, and they come back to you with "Yes, but . . ." as a response. They don't really want answers, help, or solutions. You need to call the "Yes, but . . ." people out on their avoidance tactic by saying something like "You know, Jackie, every time I offer you a suggestion you say, 'Yes, but . . . ,' which makes me think you don't really want to solve this problem. That's not going to work. If you want to play the victim, go right ahead, but I'm not going to allow you to keep this up." After a response like that, you can be assured that the next words you hear will not be "Yes, but . . ."!


"I guess . . ." 

This is usually said in a weak, soft-spoken, shoulder-shrugging manner. It's another attempt to shirk responsibility--a phrase that is muttered only when people half agree with you but want to leave enough leeway to say, "Well, I didn't really know. . . . I was only guessing." If you use this phrase, cut it out of your vocabulary.


"We'll see . . ."

How many times did we hear our parents say this? We knew they were buying time, avoiding a fight or confrontation, or really saying no. It's better to be decisive and honest by saying, "I need more information. Please present your case or send me the data--both pro and con--so I can make an informed decision." That way, the interested parties will contribute to an in-depth, well-researched "verdict."
This column is an excerpt of "Surviving the Toxic Workplace" (McGraw-Hill, 2010), by Linnda Durre, a psychotherapist, business consultant, and columnist. You can follow her on Twitter: @LinndaDurreShow.




aku mengatakan bahawa maklumat ini sangat bagus... berjaga-jaga dengan apa yang akan ku kata! haha.